Jumat, 09 September 2011

Gw udah nggak tahu berapa lama waktu berlalu, duduk manis sambil liat orang lalu lalang di stasiun Kiaracondong Bandung, sementara KRD yang ke Cimahi belum datang juga.
Hari ini gw pengen berenang di Cimahi. kata orang gw aneh, padahal banyak kolam renang di tengah kota dan gw lebih memilih ke Cimahi. Jauh kan dari Kiaracondong. Ah gw cuma pengen jalan-jalan aja sebenernya. Ngebunuh waktu senggang.
Oh iya, nama gw Yanto, asal… bingung. Sebab tempat gw dilahirkan nggak sama dengan tempat gw dibesarkan. Gw lebih merasa terikat dengan tempat gw dibesarkan daripada dilahirkan. Gw baru aja lulus SMA, 18 tahun. Ya paling dua bulan lagi lah. Bodi, lumayan… nggak kurus nggak gemuk. Ideal? Nggak juga, karena gw diatas “aturan” bodi ideal.
Jam udah hampir ke arah angka 1, padahal ini KRD harusnya datang sekitar jam 12.15an. Telat banyak. Kenapa ya?
“Jalur 3 dari arah timur…”
aha, akhirnya datang juga.
“… akan masuk KA. Serayu, tujuan Purwakarta, Bekasi, Jatinegara, Pasar Senen dan berakhir di Jakarta Kota…”
lho. Prek, kirain KRD.
“… dan mohon maaf untuk penumpang KRD Ekonomi, kereta anda masih berada di stasiun Haurpugur.”
Hah! Haurpugur sampai Kiaracondong setidaknya setengah jam! Belum ke Cimahinya bisa sejam! Payah nih. Dalam hati sebenernya udah males berenang. Sampai Cimahi jam 2, paling berenangnya cuma sejam setengah. Nggak seru ah.
Di jalur 3 meluncurlah KA. Serayu yang dijanjikan akan masuk. Lumayan penuh. Kayaknya nerima limpahan dari KRD juga. Gw yang duduk di peron 4 nyingkir dikit karena yang turun dari kereta ini biasanya rada banyak. Dugaan gw gak salah, berhamburanlah itu segala macam nenek-kakek, ayah-ibu, adik-kakak, bayi-dewasa dari kereta. Termasuk… dua tentara dengan tas ransel segede gabannya.
Mata gw secara sengaja menatap dua tentara yang baru turun itu. Cakep banget. Umurnya masih muda. Mungkin baru awal 20an. Dengan seragam PDL yang agak ngetat. Padahal biasanya di umur 20an seragam PDL itu masih longgar.
Sementara gw sibuk menatap keindahan mereka, dan mereka sibuk membenahi barang barangnya yang baru diturunin dari kereta, gw ditoel dari belakang. Gw membalik dan.
“… mas, kereta yang ke Cimahi masih belum lewat kan?”
O… Fuck…
Yang ini lebih sedap dipandang mata daripada yang dua sebelumnya. Berapa detik gw jadi bengong sendiri. Dan untungnya gw bisa menguasai diri dan kemudian menjawab…
“belum, tapi yang ini kayaknya berhenti di Cimahi juga.”
“nggak bisa mas, saya mau nganterin temen saya dulu…”
Dia senyum yang menurut gw manis banget. Namanya tertulis Bernhard N. Dan gw memandangi tubuhnya dari atas sampe bawah, rambutnya yang masih klimis rapi pendek a’la Calon Taruna yang baru masuk Akmil, otot lengannya yang dilatih dengan baik. Tapi gw taksir memang dia punya bakat badan yang bagus, alias figurnya yang bagus.
“Kalo angkot ke Kodiklat naik yang mana ya mas?”
“Oh naik yang ijo bawah kuning aja. Bisa turun di bagian samping kalo nggak depan Pussenif, eh Pussenif kan?”
“Iya.”
Dia kembali senyum pepsodent 1000 watt. Dan gw berasa semakin meleleh.
“Makasih ya mas…”
Dan kemudian dia menemui dua temennya yang ternyata emang yang gw pelototin sebelumnya. Bernhard ini memang keluar terpisah dari pintu yang satunya. Dia nge-briefing temennya dikit, lalu kemudian kembali menatap gw dan dadah sambil mengangguk.
Gw pun ikut ngangguk, makasih.
Alah rasanya indah banget siang-siang dapet pemandangan kayak gitu. Dan gw pun termenung gimana ya kalo dia jadi pacar gw, gimana ya kalo… gimana ya kalo…
Halah pikiranmu kemana sih, wong belum tentu dianya juga inget sama kamu Yanto. Keluar stasiun juga paling was wes lupa.
KA. Serayu kemudian diberangkatkan kembali. Nggak berapa lama, panggilan tiket untuk KRD ke arah barat pun diumumkan. Gw yang sudah beli tiket tenang aja, bentar lagi kereta dateng.
Dan kemudian bahu gw ditepuk lagi. Ya tuhan, Bernhard balik lagi dengan ransel di punggungnya.
“Belum dateng kan?”
Dan gw kembali ablab ebleb ngejawab si tentara ini.
“Ah… eh… belum, bentar lagi.”
“Kok kayak nervous gitu sih.”
Dia ketawa kecil. Gw ikutan, padahal aslinya… ngng… gw lebih sibuk pengen milih antara jaga mulut atau jaga selangkangan. Bukan gw mau pipis tapi gw rada gak nahan liat tentara muda secakep dia di depan mata gw. Kalo dunia ini cuma isi kita berdua, mungkin udah gw makan dari tadi.
“Ah enggak.”
“Jalur 3 dari arah timur…”, speaker stasiun kembali teriak-teriak mengumumkan kedatangan KRD.
“Ah itu dia.”
“Mau kemana emang.”
“Ke Cimahi juga, mau renang.”
“Jauh banget renang dari sini ke Cimahi?”
“Soalnya renang disitu murah sih dibanding di tengah kota.”
Gw ketawa kecil. Dia juga.
“Ayo bareng aja kalo gitu, saya juga pengen liat sekalian kolam renangnya. Saya juga suka berenang. Oh iya, saya Bernhard Nainggolan. panggil aja Ben.”
“Yanto Setianto”
Dan kemudian salaman. Tangannya gede, kekar, tapi salamannya lembut tapi juga ada ketegasan.
“Sunda?”
“Bukan, cuma lama di sunda. Sejak kuliah.”
“Oooh, biasanya kalau nama-nama yang diulang gitu kan orang sunda.”
Gw cuma nyengir, dia kembali senyum manis. Dan kita kemudian naik kereta yang nggak gitu penuh. Mungkin karena sebagian penumpangnya udah naik Serayu tadi. Ahasil gw dan Ben dapet duduk di kereta paling belakang, yang emang biasanya kosong.
“Di Cimahinya di mana?”
“Saya sih baru dipindah kesini dari Yogya dines di Pusdikhub. Daripada naik kereta yang dari Surabaya nyampenya malam, makanya mending naik Bis dulu ke Kroya.”
“Ooh, Pusdikhub, deket lho itu sama stasiun Cimahi, nggak jauh kok.”
“Oh iya? Tapi saya nggak tinggal di dalem. Kemarin sudah kontak temen yang ngekos di sekitar…”, Ben ngebuka dompetnya dan ngambil catetan alamat yang rada kucel “… Pasir Kumeli. Suruh ngganti dia yang pindah ke Jakarta.”
“Wah deket banget donk sama kolam renangnya.”
“Oh ya? Kalo gitu, bisa lah kayaknya kamu temenin saya dulu taruh barang, lalu kita berenang bareng gimana?”
Kalo boleh pingsan ditempat gw pasti udah pingsan. Ngeliat orang secakep dia berenang? Alias setidaknya cuma kolor doang? Mimpi apa gw semalem? Dan muka gw memerah.
Kelakuannya lebih bikin gw geregetan. Dengan sengaja gak lama setelah duduk, dia menyenderkan bahunya ke gw. Bukan sender karena kereta penuh, masih banyak ruang kok di kereta itu. Plus tangannya merangkul gw sambil duduk. Makin banyak alasan gw untuk pingsan di tempat.
Ben kemudian cerita dikit dikit soal kegiatannya selama ini di Yogya, dimana dia tugas sebentar banget setelah keluar dari Akademi Militer. Bahkan katanya dia baru lulus dari Akmil nggak lebih dari 4 bulan yang lalu! Ben dipindah ke Bandung karena Pusdikhub butuh orang yang pinter di bidang telekomunikasi dan radio.
Dan gw pun menceritakan hidup gw yang serba lonely. Apalagi ibu gw yang meninggal hampir 3 tahun yang lalu karena penyakit kanker yang sayangnya baru diketahui sudah pada stadium akhir. Kemudian gw juga cerita kalau gw tertarik di bidang komputer dan jaringan.
Kereta pun memasuki stasiun Cimahi.
“Ayo To!”
Dan kemudian dia menggenggam tangan gw dan membantu turun dari kereta. Cimahi emang nggak punya platform peron di jalur 1. Biasanya gw misuh-misuh, tapi karena hari ini ada yang bantuin turun. Apalagi tentara cakep, boro boro mau misuh-misuh.
Dan kita berdua jalan ke Pasir Kumeli, sempat nyasar karena memang di sekitar Pasir Kumeli banyak sekali gang-gang kecil tempat kos kosan tentara. Setelah ketemu alamat yang dia tuju, kemudian ketemu yang punya kosan, dapetlah kunci.
Kata yang punya kosan, Alfred penghuni sebelumnya udah bilang kalau temennya bakal nempatin kosan dia. Kamarnya lumayan besar, ada kamar mandi di dalam. Jendela langsung ke pemandangan luar. Sudah ada lemari, meja lesehan yang bisa dilipat, sama kasur lantai. Enak juga.
Gw berbisik, “berapaan?”
“Tigaratus limapuluh, belum listrik, air bebas.” Ben membisikkan lagi harga sewa kosan itu ke telinga gw.
Dan kemudian yang punya kosan meninggalkan ruangan tinggal gw dan Ben aja.
“Duduk aja dulu ya, aku mau masukin dan ganti baju dulu.”
Ben kemudian membongkar ransel besarnya dan menata seragamnya di lemari kecil. Pakaian Dinas Harian sama Pakaian Dinas Lapangannya digantung ke kapstok yang built in di belakang pintu. Dibongkar juga berbagai peralatan militernya seperti sabuk, pisau, helm, dan peralatan survival dan hari-harinya.
Setelah bongkar-ongkar barang yang nggak gitu banyak, dengan tanpa malu sedikitpun, Ben ganti baju di depan gw, Seragamnya dibuka sampe tinggal kolor doang. Mau gak mau gw melihat tubuhnya yang nyaris cokelat terbakar matahari. Ben orang lapangan.
Hampir aja gw ketauan ngences, karena gw merasa liur gw udah diujung bibir. Dan Ben membalikkan badan.
“Ayo kita renang!”
Perjalanan ke kolam renang juga nggak lepas dari rangkulan Ben ke bahu gw, dan gw hanya bisa mendesah dan tarik napas dalem atas rangsangan yang gw pikir tidak seharusnya dilakukan oleh tentara cakep ini.
Gw merasa jadi bagian dari dia, setiap bicara sama dia, dia selalu kasih senyum yang paling manis buat gw, dia tertawa sama gw, menceritakan pengalamannya di Akademi Militer, dan lain lain.
Di kolam renang, Ben nyebur duluan daripada gw, dengan celana renangnya yang tentu saja berwarna hijau gelap. Seksi banget. PAs dengan tubuhnya yang setelah dibuka berbadan cukup juga, belahan ototnya nggak terlalu berlebihan kayak binaraga. Lemak juga ada sedikit. Yang setelah gw pelajari ternyata itulah bentuk tubuh orang yang kuat secara fisik, bukan hanya indah.
Ben ternyata perenang yang baik, dia sudah menguasai empat gaya. Sedangkan gw yang baru bisa gaya dada sama sedikit gaya bebas nggak mampu berkutik di depan dia. Gw cuma bisa bolak balik sedikit, sambil memandangi Ben yang dari atas dan bawah air. Ternyata tonjolannya gede!
Setelah beberapa lama Ben bolak balik. Dia menghampiri gw di sudut kolam. Sambil nyemangatin gw.
“Ayo To! Kok diem aja.”
Nyengir lagi.
“Bingung, liat kamu Ben, renangnya udah jago.”
“Lama lama kamu juga bakalan bisa kok.”
Karena kita berdua datang sudah hampir setengah empat. Makanya kita cuma bisa berenang kurang lebih satu jam. Setengah lima kita masuk ruang ganti baju. Sambil bilas badan, gw kembali disuguhi pandangan close up badannya Bernhard yang… Ah. Pengen banget gw meluk dia.
“Kamu… habis ini… kemana?”, sambil sikat gigi Ben nanya apa yang bakal gw lakuin setelah renang.
“Pulang.”, gw jawab dengan nada agak kecewa. Gw akan berpisah dengan Ben.
Dipikir pikir, gw males pulang. Gw pengen menghabiskan waktu sama Ben. Tapi badan gw dan pikiran gw capek banget, terus menerus disirami pemandangan serba seksi tapi nggak lacur dari Ben! Dan gw gak tau kalau gw tetep disitu, bakal kuat gak gw menghadapi serangan hormon testosteron Ben.
“Udah, kamu temenin saya aja, kan besok hari minggu, sekalian temani saya keliling kota.”
Apa? Gak salah? Diajak balik ke kamarnya? Gw tiba-tiba lemes. Dan sebelum gw sempat mikir…
“Iya bang, boleh.”
Suara darimana itu? Oh itu suara gw! Gw meleleh di depan tentara itu!
Gw dan Ben mengeringkan diri dan kemudian gw ganti baju. Ben dengan kaos sipil standar tentaranya, maksudnya dengan motif strip. Kita keluar dari kolam renang hampir saat kolam tutup. Sampe di gang, dekat kosan. Rangkulan Ben berubah menjadi genggaman tangan. Dan dia setengah keburu-buru ke kosan.
Mungkin mau pipis.
Ben ngebuka pintu kamarnya, dan mempersilahkan gw masuk.
Tiba tiba gw didorong ke tembok, tangan Ben menahan bahu gw, gw kaget dan terengah gak hanya karena barusan jalan agak cepet. gw lihat muka Ben jadi serius.
“Umur berapa kamu?”
Gw kaget…
“18 bang.”
“Bagus…”
Dan Ben kemudian mengadahkan muka gw dengan tangannya yang kekar mencocokkan dengan mukanya, dan secara perlahan, dia mencium gw tepat di bibir.
=====

Can this be true Tell me can this be real How can I put into words what I feel
My life was complete I thought I was whole Why do I feel like i’m losing control
Never thought that love could feel like this And you change my world with just one kiss How can it be there right here with me There’s and angel, it is miracle
Gw berbaring di kasur busa, memandang Ben yang tidur dengan damainya. Ya tuhan, gw bahagia banget. Gw dan Ben mengekspresikan apa yang kita bisa dari sejak sore tadi sampai malam. Bibirnya mencium gw dengan lembut, kemudian pelan-pelan membawa gw ke tempat tidur, menindihku.
Beban tubuhnya yang kekar, ototnya yang menggesek semua syaraf di permukaan kulit gw. Gw bergetar. Berkali kali Ben mencium gw, pindah ke leher, pindah ke dada, kembali ke bibir. Dia seperti orang yang sudah sangat lama nggak nge-seks. Dan gw? Gw apalagi, gw belum pernah disentuh seperti itu. Gw juga lapar. Serangan ini cuma bisa membuat gw dan Ben melenguh keras.
Ben melepaskan kaosnya dan gw melihat ototnya yang kekar, kali ini tidak ada air ataupun sisa kaporit di mata yang menghalangi, semuanya jelas di remang lampu kamar yang memang kurang terang. Gw raba putingnya dan menjilatnya, Ben melenguh keras dan membiarkan gw menjilati, menggigiti putingnya yang membesar dan menegang, keduanya. Ben mencium dahi gw sambil menjambak-jambak pelan rambut. Kita memang sedang dimabuk seks.
“Aku mau kamu buat selamanya.”
Gw terpana, apa ini semacam lamaran Ben? Gw tatap matanya dan menemukan sesuatu yang berbeda di pancarannya. Sesuatu yang membuat gw jatuh hati.
“Nggak ada yang lebih baik dari itu kan?”
Seks itu pun berlanjut. Malam itu juga Ben menggagahi gw, dengan kontol sepanjang 17cm. Gw hanya bisa pasrah menerima tumbukan demi tumbukan kontolnya yang panas. Ben mengentoti gw sambil menciumi, menggigit semua bagian tubuhku. Semua berakhir dengan muncratnya peju Ben di dalam pantat gw dan kontolku di dada Ben.
Masih lemes, gw membersihkan dada Ben yang kekar dengan lidahku dari peju. Kemudian kami berciuman, lama. Kami bertukar peju di dalam ciuman. Dan kayaknya nggak ada yang peduli apa itu menjijikkan atau enggak. Ben dan gw suka itu. Gw pun tertidur di pelukan Ben. Mengendus bau tubuhnya, sambil meraba dadanya. Gw merasa damai.
“Kenapa?” Ben terbangun, “Ada yang salah?”
Mata gw memang basah. “Nggak… saya seneng banget.”
Ben melenguh. “Sini dipeluk lagi.” Dan gw tertidur lagi.
Pagi di Cimahi memang tidak sedingin di Bandung. Cahaya matahari mulai merayap ke dalam kamar. Gw terbangun masih di pelukan Ben, dan gw mencium dahinya.
“Mmm… emang enak kalau bangun pagi dipeluk sama pasangan.”
Kami berciuman lagi. Kupegang kontol Ben yang mengeras. Mana ada sih kontol cowok yang gak keras pagi-pagi? Malah kalo nggak keras bisa dikatain impoten. Gw pun merunduk dan memasukkan kontolnya ke mulut gw. Gw isep kontolnya dan dia melenguh. Ben pun muter di kasur sampai kontol gw berhadapan langsung ke mukanya. Dan tanpa permisi dia ngisep kontol gw. Kita 69.
“Uhh… isepan kamu enak Ben.”
“Mmmm…” Ben hanya melenguh.
“Isep yang dalem…”
Rangsangan lidah Ben terlalu kuat, gw berusaha memberikan yang sama dan setara untuk kontol Ben.
“Oh… To… Dikit lagi muncrat…” Ben berteriak tertahan.
Dan… CROTTTT… Ben pun memuncratkan peju paginya ke mulut gw, dan gw telan seperti bayi yang lagi minum susu. Di saat yang sama gw merasa kontol gw sudah terlalu payah buat nahan peju dan CROOTTTT… peju gw muncrat ke mulut Bernhard.
Ben membalik lagi dan kemudian kita ciuman, membagi sisa sisa peju yang ada di mulut.
“Selamat pagi sayang.”
“Pagi…”
“Tidurnya enak?”
“Nggak pernah lebih baik. Saya harap ini selamanya Ben.”
“Jangan berharap.” Ben tersenyum, “Jadikan kenyataan. Kenyataan kalau kamu adalah pasangan aku buat selamanya. Aku nggak mau kehilangan kamu.”
“Saya juga nggak mau. Jangan sampe, amit-amit.”
Jangan salah, yang gw butuhkan sekarang cuma cinta. Di satu sisi memang gw suka dengan tentara. Tapi di dalam pikiran gw, mereka adalah kaum yang nggak bisa disentuh oleh orang macam gw. Kerjaannya selalu di dalam markas, keluar cuma buat bobo, lalu balik lagi. Makanpun di dalam.
Keluar dapet gaji, beli atau tuker tambah hape ke Bandung Electronic Center, lalu balik lagi ke markas sambil pamer. Kalaupun ada misi tertentu nyari pelampiasan gw tahu diri. Mereka kebanyakan suka cewek. Yang suka sama cowok cuma sedikit, dan sayangnya lagi, mereka lebih sering ngedapetin pasangannya di dalem markas.
Lalu kesempatan buat gw mana? Jadilah gw kadang beredar di dalem jantung kegiatan mereka. Kolam renang itu misalnya, kadang kalo ada tentara yang renang gw berharap bisa ngedeketin mereka. Seenggaknya ngajak ngobrol lah. Tapi mereka kebanyakan dateng berdua. Pasangan? Teman?
Konteks pertemanan di tentara memang jauh lebih dalam daripada yang di luar tentara. Bayangin mereka tidur bareng, kerja bareng, keringetan bareng, mandi bareng, hahah hihih bareng. Mereka lebih erat daripada surat sama perangko. Memisahkan mereka bisa dianggap pengkhianatan dari salah satunya. Dan dalam kasus yang ekstrim, bisa berakhir tragis.
Gw gak mau.
Dan sekarang, tanpa hujan angin badai petir, gw berada di pelukan seorang tentara, bagian dari Angkatan Darat. Gw bersyukur kepada tuhan.
“Tau nggak kamu, aku merasa ini pemberian tuhan yang paling membuat gw bahagia. Umur masih 22, pindah ke kota yang dari dulu aku pengen tinggali, dan sekarang komplit dengan kamu.”
Muka gw menghangat, “Masa sih?”
“Iya, aku pikir. Ini mukjizat tuhan. Pertama kali aku dipindah dari Akmil itu cuma di kantor di kota kecil nyaris pedalamannya Yogya, yang aku pikir, aku nggak bisa kemana mana. Nggak bisa menikmati hidup. Dari dulu aku pengen dipindah ke Bandung.”
“Kenapa? Bandung bukannya hampir sama kayak Yogya.”
“Beda, Yogya kota dan Bandung kota beda banget. Yogya memang indah, budayanya luar biasa. Aku suka tinggal disana. Aku suka ke kota. Tapi saat kenyataan datang dan aku kembali kerja dan latihan, semuanya beda lagi. Aku merasa jadi sendiri. Aku punya teman di Akademi, saat penugasan dia dikirim ke Pontianak. Aku takut aku dikirim ke tempat yang lebih jauh lagi, meskipun aku tau itu sudah tugas, tapi rasa takut boleh ada kan?”
Gw mencium Ben. “Boleh, siapapun boleh kok merasa takut. Walaupun kamu sudah belajar ngebunuh orang dengan tangan kosong, kamu tetep boleh ngerasa takut.”
“Ternyata di desa itu aku cuma sebentar, karena kantor Koramil yang disana memang sudah mau direnovasi dan semua personilnya bakal diganti yang baru. Jadilah aku terdampar di Bandung. di Pusdikhub, buat belajar lagi.”
“Tau nggak, saya percaya karma,” gw ngomong sambil berbaring menatap matanya. “Kalau kamu nggak dilempar ke desa itu, kamu nggak bakalan kesini kan?”
“Iya.” Ben mengecup hidungku. “… dan aku nggak bisa ketemu kamu.”
Kami berbaring lama, saling menatap, saling mencium, saling mengusap pipi, sampai… “krewekkk…”, Ben meringis.
“Hehehe… aku laper. Ayo makan.”
Kami pergi ke warung terdekat, lalu ngebungkus 3 nasi. Kata Ben yang satu buat tambahan. Kembali ke kosan Ben kami langsung menghabiskan nasi yang kami beli itu. Nggak ada sampai 20 menit, ketiga bungkus nasi itu sudah masuk ke perut kami.
Selesai makan, cuci tangan, beres-beres peralatan. Kami fokus lagi ke tempat tidur. Bersandar di tembok, gw duduk menyender di dada Ben, sambil Ben mengelus-elus rambutku.
“Jadi… kamu 18 tahun? Udah lulus SMA kan?”
“Udah dong. Kemarin baru lulus. Saya emang masuknya setahun lebih awal, tapi umur rata rata sama temen-temen nyaris sama kok.”
“Oh, pantesan. Takutnya kamu baru mulai kelas 3.”
“Hahaha… udah lulus kok bang. Kalo Bang Ben emang umur berapa?”
“Abang masih 22. Januari nanti 23.”
Lalu diam… diam yang nyaman, dengan gw mengelus paha bang Ben, dan sesekali bang Ben mengecup kening gw. Bang Ben dan gw masih muda. Belum tahu gimana caranya hidup. Bang Ben sendiri baru aja keluar dari Akademi Militer, dan gw baru aja lulus SMA. Gw takut hubungan ini nggak bakalan tahan lama.
Bagaimana kalau bang Ben ditugaskan ke luar pulau? Bagaimana kalau bang Ben dipindah ke daerah terpencil? Bagaimana kalau gw kuliah di luar Bandung? Emang gw harus kuliah? Bukannya gw udah punya yang gw inginkan yaitu bang Ben sebagai pasangan hidup gw?
“Ada apa To?”
Kekhawatiran itu kayaknya tercetak di raut muka gw, “nggak apa apa bang.”
“Boong, kalo kamu nggak khawatir tentang sesuatu mukamu nggak bakal seperti itu. Ayo ngomong.”
“Malu ah.” aku merunduk.
“Hey, Yanto. Inget abang sudah mengambil kamu sebagai pasangan. Semua masalah harus dibagi sama abang. Kalau kamu ada masalah, bilang ke abang. Kalau abang ada masalah, abang bilang ke kamu. Abang gak boleh bagi rahasia negara sama kamu. Tapi untuk masalah lain, ngomong sama abang. Ok? Kamu percaya abang kan?”
Gw merah lagi. Harusnya gw tau kalo cinta dan percaya dateng satu paket. Dilarang keras mencintai tanpa mempercayai.
“Bang…” aku hanya berbisik, hanpir gak kedengeran.
“Ya…”
“Apa aku pantes buat abang?”
“Kenapa masih tanya lagi? Kalau kamu nggak pantes buat abang, di stasiun kemarin abang nggak akan ngajak kamu naik kereta bareng, minta abang renang bareng sama kamu, ke kosan bareng, dan abang nggak bakalan dapet…” Ben mengelus lobang pantatku ” … itu.
Aku menggelinjang. “Aku takut ini cuma sesaat aja bang. Cuma rasa nafsu aja.”
“Emang itu yang kau rasakan?” Ben menarik tangannya dan menatap mata gw, “Pas sama abang kemarin, kita ngentot bareng, kita tidur bareng, cuma itu yang kamu rasa?”
Gw hanya bisa nunduk. Ben marah, gw mempertanyakan cintanya. Gw tidak yakin soal cinta yang baru aja gw dapet.
“Hey… To… lihat sini…” Ben mendongakkan kepala gw sampe menatap matanya lagi. “Abang tau, ini pertama kalinya kamu cinta sama seseorang kan? Pertama kalinya kamu berhubungan lebih dari sekedar teman kan?”
“Iya”
“Oke, mungkin kamu belum terbiasa. Tapi denger, jika aku bilang, aku suka kamu, aku mau kamu ada di hidup aku selamanya. Dan seinget aku kemarin malam kamu juga mengatakan hal yang sama. Aku rasa kamu nggak perlu nanya lagi, oke? Aku… cinta… kamu… Yanto.”
Aku nyengir, pertama kalinya aku ngedenger suara ala komandan yang lagi marahin anak buahnya dikeluarkan oleh Ben. “Siap ndan!”
“Bagus! Mandi yuk, aku pengen jalan-jalan, ngenal kota ini!” Tangannya menepuk pantatku. “Mau dimandiin…”
Halah… ternyata ni tentara bisa manja juga. Matanya ngegedein mirip Puss the Boots yang ada di Shrek. Menatap gw kayak anak 5 tahun yang minta dimandiin sama kakaknya. Gw ngejitak dia. “Ayo cepetan buka bajunya,”
Ben berjingkrak masuk ke kamar mandi yang nggak gitu leluasa. Dan gw nyusul di belakangnya. Ben nyalain shower dan kemudian langsung mengajak gw ke dalam aliran air.
“Hiii… dingin.” Ben pun menggigil nggak terbiasa dengan air Bandung – Cimahi yang memang dingin kalau di pagi hari.
Gw mengambil shampoo dan langsung menggosok rambut Ben yang tipis, kemudian ngambil sabun dan langsung menyabuni dada Ben dari depan. Gw memberikan ekstra perhatian buat ketiak dan putingnya. Ben melenguh kecil pas gw menyentuh putingnya, memainkannya sedikit.
“Ah… putingku… enak banget…”
Gak mau bocor di tengah mandi, gw menyabuni otot perutnya yang udah mirip dengan papan cucian, kotak-kotak tapi seksi. Nggak kayak binaraga yang gw pikir terlalu berlebihan ototnya. Ini cukup.
Shower yang dingin kurang pengaruh kayaknya sama keadaan tubuh gw dan Ben. Semakin laman gw mengelus dan membersihkan badan Ben, semakin besar dan keraslah lenguhan Ben. Sampai gw harus ngebersihin kontol 17cm-nya itu, udah ngaceng aja. Ya terpaksa, tanpa ba-bi-bu gw sedot kontolnya di kamar mandi.
“Ngggh… enak To… isep…”
Sambil ngisep kontol Bernhard, gw menyabuni pantatnya, dan membesihkan sela sela silitnya. Dan gw menemukan lobang boolnya. Gw elus elus.
“Masukin jari kamu To.” Ben yang minta, gw yang melaksanakan. Gw masukin jari gw yang agak bersabun ke lubang bool Ben. “Ah… enak banget…”
Badan Ben gw balik hingga Ben ngerapet ke dinding biar gw bisa lebih konsentrasi dengan perhatian gw ke lubang bool dan sekitar pantatnya. Sengaja jari gw masih gw bikin keluar masuk bool Ben dan sret…
“Ugh… anjing… apaan tuh?”
“Itu prostat abang. Kalo aku colek seperti ini…”
“Shhh… anjing… enak banget. Bisa cepet keluar aku.”
Aku ketawa kecil, baru kali ini Ben menggunakan bahasa kebun binatang pas gw rangsang. Dan bukannya kesinggung, kok gw malah tertarik ya. Gw raba lagi prostatnya dengan jariku yang tertimbun di dalem dua belah pantatnya.
“Aaaaaaaah….”
“Enak kan?”
“Anjing enak banget. Sama enaknya sama waktu ngentot kamu tadi malam.”
Kaki Ben semakin bergetar, dan gw pun makin rajin meraba prostat Ben di dalem boolnya. ben cuma bisa melenguh nggak beraturan…
“To… entot aku To! Aku nggak tahan lagi! Cepet entot!”
“Beneran nih?”
“Iya, udah cepet entot aku!”
Gw pun dengan segera mengabulkan permintaannya. Gw kokang pistol lunak ukuran 16 cm yang udah tegang dari tadi, dan gw masukin pelan pelan ke lobangnya.
“Aaaah… enak banget bang.”
“Entot To…”
Gw diem beberapa saat biar Ben bisa menyesuaikan diri dengan kontol gw, dan pelan-pelan gw tarik keluar masuk kontol gw.
“Entot yang keras To…”
Semakin lama gw semakin meningkatkan kecepatan entotan gw terhadap bool tentara ini. Dan gw hujamkan langsung ke prostat di dalem boolnya. Gw ngerasa gak karuan. Enak banget.
“Anjing lo To… gw dientot kayak anjing gencet begini. Ahhh…”
“Enak kan bang dientot? Kontol gw nyodok bool tentara abang nih.”
“Anjing lo berani ngentot tentara, gw bales baru tau rasa…”
“Bales aja gak papa.” Ngentot sambil dihiasi kata-kata makian seru juga. Dalam situasi biasa nggak mungkin kayaknya gw make maka-kata kayak gitu dalam percakapan sehari hari.
Ben kayaknya nggak tahan lagi.
“Ohhh… ohhh… ngecrot To… Kontol gw ngecrot…”
“Keluarin bang… jangan ditahan…”
“Kontol lu To… berani ngentotin tentara sampe muncrat… aaaah… aaaaah… aaaaahhhhhh,” CROTTTT… CROOOOT… peju Ben ngecrot keras ke dinding kamar mandi. Sementara itu karena jepitannya yang semakin kuat di boolnya, gw pun nggak bisa nahan lagi.
“Abang… Yanto juga… ahhh,” Gw tumpahin peju gw di lobang tentara Bernhard yang anget itu, sekitar 8 kecrotan.
Kita berdua diem sebentar, lemes habis orgasme yang kedua kalinya pagi ini. Sampe Ben duluan yang gerak…
“Hmmm… enak banget. Makasih sayang.” Dia mengecup bibirku dengan mesra dan dalam.
“Sama sama… apa sih yang enggak buat abang…”
“Saatnya mandi beneran.” Bernhard pun nyengir, dan langsung menumpahkan segayung air dingin ke badan gw.
“Dingin gobloooooook!” gw teriak.
“Huahahahahahaha,” tawa Bernhard meledak keras di kamar mandi.
===== ===== ===== =====
Kami berbaring di kasur. Ya tuhan, ini hari yang sangat melelahkan. Secara fisik dan mental. Segera setelah mandi, gw sama Ben jalan keluar dan keliling Cimahi dan Bandung. Kami nggak pake angkot. Angkot dipake kalo jarak yang dipake buat jalan terlalu jauh. Kaki gw capek banget. Mungkin Ben udah kebiasa jalan, jadi kayaknya nggak capek-capek amat kayak gw.
Secara fisik capek, secara mental gw juga kayak abis ketabrak KRD. Kita pergi ke BIP nyaris sore hari. Duh homo-homo yang mangkal disana matanya udah kayak pengen makan Ben! Seharian gw bikin pandangan ‘jangan-ganggu-laki-gw!’ ke mereka. Dan sepertinya Ben nggak nyadar soal ini, dia asik asik aja jalan sambil kadang merangkul. Fuck!
“Apa?” Ben menyadarkan gw dari lamunan. Gw bangun dan duduk di kasurnya, sambil ben mengelus pahaku.
“Capek. Tadi banyak banget yang ngeliatin kamu jalan sama saya.”
“Ngeliatin? Emang kami semacam artis?”
“Kalau ada artisnya, bukan saya, tapi kamu.”
“Maksudnya?”
“Gini, ada beberapa teritorial di Bandung yang memang penuh dengan…orang seperti kita?”
“Maksudnya? Sama sama homo gitu?”
“Ng…” Gw mempertimbangkan apakah kata-kata itu bisa dibilang kasar atau enggak. Tapi insting gw bilang lha emang gw homo, trus mau apa lagi? “Iya begitu, homo”
“Trus?”
“Tadi itu mereka sibuk ngeliatin kita…atau kamu tepatnya. Dan matanya seolah pengen ngerampok kamu dari saya.”
“Peduli amat.” jawab Ben, singkat, padat, tegas.
“Seharian saya ngashih tanda buat para hewan buas itu kalau kamu milik saya, jangan coba coba sentuh.”
“Hahaha, aku gak peduli To! Mereka cuma iri. Mereka nggak bisa jalan dengan orang lain. Mereka…belum punya orang lain buat dicintai dan mencintai! Mereka terlalu sibuk mikirin selangkangan mereka!”
“Dan kamu?”
“Hey, jangan salah sayang. Gw juga mikir soal selangkangan.” tangkas Ben sambil meremas kontol gw, yang langsung mengeras secara instan.
“Hmmm…” gw melenguh, ke sentuhannya.
Ben pun duduk di samping gw.
“Aku gak peduli pandangan mereka. Karena aku terlalu sibuk memamerkan pacar aku yang baru! Hehehe. Malas banget aku harus ngurusin pandangan mereka. Lebih baik aku mengurusi apa yang kamu mau, apa yang jadi perasaan kamu, gak perlu ngurusi perasaan mereka kan?”
“Dunia ini cuma berdua, dan yang lain cuma numpang gitu?”
“Ya gitu lah…” Ben nyengir kayak kuda. Nyengir-nyengir horny. Kemudian dia mencium gw lembut.
“Kita harus peduli Ben, nggak bisa enggak. Kamu punya kerjaan…”
“Ngomong-ngomong kerjaan. Aku belum tau, kamu sudah lulus SMA kan? Mau kuliah?”
“Tepatnya…maunya…kuliah. Bukan mau kuliah. Saya gak bisa kuliah soalnya biayanya nggak ada. Kamu tau kan, orangtuaku dua duanya udah nggak ada.”
“Lalu gimana kamu mau ngelanjutin hidup kamu?
“Aku…”
Pikiran gw tiba-tiba buntu. Gw gak mau jadi pelacur buat Ben. Gw gak mau jadi beban buat Ben. Sesuatu harus gw lakukan buat hidup gw. Gw rasa gw termasuk yang masuk dalam filosofi lama. Setiap cowok harus mampu menghidupi dirinya sendiri. Dan biasanya gw tambahin: dan harus mampu menyenangkan hidupnya sendiri.
“…udah kamu kuliah aja. Aku yang biayai.”
“Ooo tidak bisa…” aku menjawab seperti Sule.
“Kenapa?”
“Nggak bisa aja.”
“Nilai kamu jelek? Gak cukup mampu? Otak gak kesampaian? Dari yang aku tahu selama 2 hari kebelakang ini, aku rasa kamu bukan orang yang bodoh. Iya kan?”
“Ya…begitulah”
“Lalu…?”
Lama gw berpikir, nggak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Ben tampaknya tahu aku sedang berpikir keras buat nyari alasan. Matanya bilang dia tau alasan jelasnya. Tapi dia kayaknya perlu gw buat ngomong sendiri.
“Yanto, tolong percaya abang ya.”
Gw menatap matanya, kemudian menunduk dan menarik nafas panjang. Gw kayak kejebak dengan pertanyaan klasik lagi “Aku nggak mau jadi beban buat abang.”
“Beban keuangan maksudmu?”
Oh my god, here we go talk about money. Gw menghindari ngomong soal uang karena ini hal yang paling sensitif yang bisa memecah semua pasangan homo dan belum-menikah di muka bumi. Soal duit. Semua homo dan manusia yang belum menikah punya ego. Ego yang bilang mereka mampu menghidupi dirinya sendiri.
Aku hanya menunduk.
“Sayang, kita bedua sudah memutuskan untuk menjalani sisa hidup ini bersama kan? Lalu apa lagi? Kita bisa berbagi, jangan khawatir. Gaji aku cukup untuk menghidupi kita berdua. Kalau kamu sudah lulus kuliah, kan kamu bisa bekerja, atau buka usaha. Dan kamu mulai berbagi dengan aku. Bisa kan?”
“Tapi…itu kan lama Ben.”
“Aku nggak peduli lama atau sebentar. Semua butuh proses. Kalau kita nggak mulai proses itu, kita nggak pernah sampai ke garis finis.”
Aku nyengir. Iya juga.
“Jadi?” tanya Ben.
Aku hanya memeluk Ben. dan dia berbisik. “Inget aja, sekarang nggak ada kamu dan aku. Yang ada kita. Kamu punya masalah, kamu bilang. Aku punya masalah, aku bilang. Yang aku nggak bisa bilang ke kamu cuma mungkin beberapa rahasia negara yang aku pegang.”
Aku melepaskan Ben dari pelukan. “Saya tau kok. Resiko jadi pacar tentara. Nomor satu selalu negara, nomor dua baru saya.”
Ben ketawa. “Kok profesional sih? Pernah ya?”
“Denger dari tetangga aja, ada yang istrinya tentara. Tiap malem ribut kalo suaminya pulang. Selingkuhlah ini-lah itu-lah.”
“Aku nggak bakalan selingkuh kok. Jam lima teng aku sudah pulang. Nggak kemana-mana.”
“Kamu boleh kemana-mana kok. Pulang jam berapa aja. Ini kan kosan kamu…”
Mulut gw tiba-tiba kering.
“Ini juga kosan kamu. Nanti kita bikin duplikat kuncinya biar kamu bisa masuk kapan aja.”
“Nggak semudah itu kan? Maksud saya, belum tahu nanti kedepan seperti apa pengaturan hidup kita.”
“Dibawa mudah aja To. Jangan terlalu dipikirin. Aku akan urus itu semua. Percaya, ok?”
Ben mencium gw di dahi. Dia membaringkan gw di kasur dan terus menciumku turun ke hidung, dan mendarat di mulut… dan leher… dan dada… . “Mmmm… Saya bener-bener cinta kamu Ben.”
“Aku pengen kamu… sekarang.” Suaranya pelan tapi tegas menusuk. Kebiasaan tentaranya keluar. Dia membuka kaosku sambil terus menciumku. Terbuka kaos dia melanjutkan serangannya ke puting gw.
“Auhhh… Ben…”
Ben nggak berkata apapun. Dia terus menjilati dan menggigiti puting gw, dan gw terngial ngial nggak bisa nahan nafsu lagi, gw cium dahinya, gw raba punggungnya… raba? mungkin setengah nyakar tepatnya. Enak banget. Ben ahli banget mainin puting gw. Dan semakin lama puting gw semakin menegang, semakin keras, dan gw semakin pengen ngecrot.
Sebelum gw ngecrot akhirnya Ben pindah ke lebih bawah lagi. menarik celana gw yang udah longgar dan sibuk membenamkan mukanya di bulu jembut gw yang tipis. Biasanya jembut gw cukur, tapi udah agak lama mungkin sekitar satu dua minggu gw belum merapikan jembut.
“Hmmm… aroma jembut… enak banget…” Ben menghirup aroma jembut gw, aroma selangkangan gw, sekitar kontol gw yang udah tegang keras ngaceng dan mengeluarkan cairan beningnya.
Dalam sekali lahapan, ben memangsa kontol gw, sampe nyaris ke akar. Kontol gw yang 16cm dan cukup gemuk itu dilahap hampir tiga perempatnya. Kehangatan yang luar biasa naik turun mulut Ben di kontol gw juga bikin gw kalang kabut. Gw hampir aja gak bisa tahan diri buat ngecrot, sampe akhirnya Ben menarik lagi isepannya.
Jilatan dan gigitan Ben belum berakhir, dia turun lagi ke bagian peler gw. dijilat lagi dipegang lagi, ditimbang lagi… dijilat lagi… rasanya bikin merem melek, nggak kuat.
“Ohhh Benn…..”
Gw kira Ben bakal berhenti di situ ternyata enggak. Ben terus menuju ke selangkangan gw, bagian bawah biji peler gw. “Bennnn!!!! Jangan… ooohhh…”
“Kenapa?”
“Takut… kotor.”
“Berani kotor itu enak kok.” Dengan diucapkannya kata kata plesetan iklan itu Ben kembali melanjutkan gigitan dan jilatannya di sekitar lobang bool gw. Dengan tangannya yang kekar dan berotot Ben mengangkat kedua pahaku tinggi-tinggi. Matanya berbinar melihat lobang bool gw, dan… hap… dijilatinya lobang bool gw dengan lidahnya yang menari-nari, gak cukup disitu, pelan pelan Ben memasukkan jarinya yang gede-gede itu ke bool gw.
“Aaaaaaaaaaaaaahhh…” aku cuma bisa mendesah panjang saat Ben mulai memainkan bool gw. Sampe… ceprot… “Fuckkkkk…”
“Kena deh tombolnya.” Ben nyengir di sela sela jilatannya.
“Dasar lo tentara homo… tau aja…” Dan Jari ben melanjutkan meraba-raba prostatku. Aku terngial ngial nggak karuan. Kayaknya lama banget Ben memainkan lobang bool gw,s ampe gw gak tahan “Udah Ben… Entot aja… Please…”
“Nggak bilang dari tadi.”
“Koplok lo.”
Ben mengambil pelicin dan meneteskannya di lobang gw dan meratakannya di kontolnya. Kemudian pelan-pelan Ben memasukkan kontolnya yang 17cm dan gemuk ada sebesar botol air mineral merek paling terkenal itu. “Kalo sakit bilang ya.”
“Oh god… ya tuhan… oh… oh… oh… oh…” Gw mendesah dan menarik napas panjang saat kontol Ben pelan pelan merayap masuk ke rongga pantat gw. Dan gak lama kemudian gw merasakan gelitikan jembut Ben yang habis dicukur di pantat gw. Gw merasa sangat penuh, di saat yang sama sangat merasakan keenakan yang luar biasa.
“Masuk semua, tarik nafas sayang…”
Ben pelan pelan mulai mengentot gw, tarikannya sedang, nggak terlalu cepet dan nggak terlalu lama. Gw melenguh di sela sela tiap tarikan dan dorongannya. Ya tuhan, gw bisa ngecrot sukarela kalo begini. Gw semakin menggila, gw membiarkan Ben mengontrol kecepatan entotannya, tapi gw sendiri semakin nggak tahan… CROTTTTTT…
“Satu…”
“Hahh… hahhh… hahhh… hahh…” pancutan gw jauh ke muka dan dada gw. Dan Ben tampaknya belum apa apa. Dengan kecepatan yang sama dia lajut mengentot gw lagi. Dan edannya kontol gw kembali mengeras setelah hanya beberapa entot aja. Gila, ini bener bener gila. Gw merasakan kehangatan luar biasa di pantat gw. Dan Ben… kontol Ben… Ahhhhh!
Ben terus mengentot gw, entah berapa lama. Gw terus melenguh, dan melenguh kini dia menjilati putingku lagi, tetap dengan entotannya yang teratur, nggak kehilangan kecepatan.
“Mmm… MMMM… MMMMM!!!!” Diantara ciumannya dan gesekan perutnya dengan kontolku… CROOOOOT… kontol gw kembali muncrat buat yang kedua kalinya.
“Dua…”
“Ben… aahhh…” dia nggak berhenti ngentot gw, dan gw kembali ngaceng lagi. Dan keras lagi. Maunya apa sih? Mau ngabisin persediaan peju gw? Ah… gw semakin nggak tahan. Di dalam pelukannya gw terus menggelinjang, setengah mencakar punggungnya, memelintir putingnya meraba otot bisep nya, segalanya gw lakukan. Gw udah masuk ke tahap gila kali ya, gila akan kontol yang mengentoti gw, kontol tentara yang bernama Bernhard ini.
“Ben… Entot yang kenceng Ben! Saya gak tahan lagi Ben…”
Dan Ben pun menatap mata gw, nyengir dan mulai meningkatkan kecepatannya. “Ohhh… ooooh… ohhhh.” Lenguhan gw semakin keras karena Ben sekarang mengentoti gw seperti besok dia bakal pergi perang.
“Aggggggh Beeeeeeeeeeen!!!” CROTTTTT CROTTTTT CROOOT!
Lagi-lagi gw muncrat melewati dada gw. Dan Ben mengaum keras seperti Singa yang sedang menerkam mangsanya. Menghujamkan kontolnya sedalam mungkin ke bool gw dan CROTTTTTT… CROTTTT CROOOOOOTTT… peju Ben tumpah ke bool gw.
“Agggggggggggh…” Ben mendengus lama, mengatur napasnya, muncrat yang sangat panjang dan lama. Gw merasa bool gw semakin penuh, dan peju Ben meleleh dari pinggiran bool gw.
Setelah nafasnya lebih teratur, Ben mencium gw. Dan kemudian kebawah lagi. Ya tuhan… dia menghisap lagi pejunya yang udah ditanamnya jauh ke pantat gw. pelan pelan dia menjilat lobang gw. Aku hanya bisa melenguh. “Ben…”
Dia naik lagi dan mencium gw. Gw merasakan pejuh gw di mulut Ben bercampur dengan rasa lainnya. Mungkin kalau orang lain merasa jijik, gw sebaliknya. Gw menerima pejuhnya, dan kemudian memberikannya kembali dan terus begitu sampai tidak ada pejuh yang bersisa bertukaran di mulut kami.
Keuntungan seks sesama cowok ini banyak. Yang pertama adalah gw gak harus khawatir tentang yang namanya ‘afterplay’. Kebanyakan cowok langsung kecapean dan bobo nggak lama setelah ngentot. Dan begitu juga yang dirasakan oleh Ben dan gw. Cape. Bersih bersihnya nanti aja.
===== ===== ===== =====
Hidup terlalu mudah untuk disia-siakan. Maka gw dan Ben segera mengadakan kompromi di kehidupan. Gw ngambil kuliah di Dipati Ukur di salah satu universitas disana. Dan ingin tetep punya waktu banyak dengan Ben. Jalan satu satunya ya gw tinggal di kosan dia.
Sabtu pagi itu, Ben yang memang libur ngeliat muka gw yang rada nggak biasanya. Ya, seks kita luar biasa banget. Tapi kita nggak tinggal bareng. Kita masih tinggal kepisah. Gw di Babakan Surabaya, Kiaracondong, dan dia di Cimahi. Cuma satu kali naik kereta, tapi jaraknya cukup jauh.
Kita sering tidur bersama. Kadang gw nginep di Cimahi, atau weekend nginep di Kircon. Ben nggak bisa nginep di Kircon di hari biasa karena nggak ada kereta yang bakal tepat waktu nganterin dia sampe ke Pusdikhub saat apel pagi. Jadi kadang kita tidur terpisah setelah salah satu dari kita nemuin yang lain.
“Kapan kamu mulai kuliah.”
“Senin depan.” Gw mengunyah kupat tahu dengan kurang semangat.
“Di DU ya?”
“Iya.”
“Sudah saatnya. Ayo berkemas. Kita pindah.”
“Apa?”
“Aku sudah nyewa rumah di Cimahi. Ayo kita pindah.”

3 komentar:

  1. Ceritanya seru.
    Ni asli gak ceritanya?
    Jadi keingat mantan namanya ade setiawan di dkat stasiun cimahi itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. VIMAX PEMBESAR PENIS CANADA



      Bikin Penis Besar, Panjang, Kuat, Keras, Dengan Hasil Permanent



      isi 30 cpsl Untuk 1Bulan Hanya.500.000;



      Promo 3 Botol Hanya.1.000.000;



      ANEKA OBAT KUAT EREKSI DAN T.LAMA 



       PERANGSANG WANITA SPONTAN



      ( Cair / Tablet / Serbuk / Cream) 5Menit Reaksi Patent.

      Sangat Cocok Untuk Wanita Monopouse/ Kurang Gairah.





      ANEKA COSMETIK BERKWALITAS TERBAIK



      ( Pelangsing Badan, Pemutih Muka & Badan, Flek Hitam,

      Jerawat Membandel, Gemuk Badan, Cream Payudara,

      Obat Mata Min/ Plus, Peninggi Badan, Cream Selulit,

      Pemutih Gigi, Pembersih Selangkangan/ Ketiak,

      Pemerah Bibir, Penghilang Bekas Luka, Perapet Veggy,





       ALAT BANTU SEXSUAL PRIA WANITA DEWASA 



       tlp: 0822 2121 8228 - 087 831 434 777 BBM.24CEE3AE MR.SHOLE





































































































































      ..

      Hapus